berantas86news | Bogor – Tiga siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pasir Angin 02, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, harus dilarikan ke RSUD KH Idham Chalid Ciawi pada Rabu (1/10/2025). Mereka mengalami mual dan muntah usai mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di sekolah.
Kapolsek Megamendung, AKP Yulita, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, ada tiga siswa yang dilarikan ke rumah sakit, terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki.
“Ada tiga orang, dua perempuan dan satu laki-laki. Dari tiga itu, dua orang mengalami muntah-muntah. Perempuan kebetulan kondisi perutnya kosong saat di rumah, lalu ikut upacara sehingga bisa menimbulkan mual. Jadi, dua anak perempuan yang muntah, sedangkan satu laki-laki kondisinya kurang segar, tapi tidak sampai muntah,” jelas AKP Yulita.
Ia menambahkan, seluruh siswa yang sempat dirawat sudah menunjukkan kondisi yang membaik.
“Ya, semuanya dibawa ke RSUD, dirawat di IGD. Namun kondisi mereka sudah mulai membaik,” tambahnya.
Terkait dugaan penyebab, AKP Yulita menegaskan belum bisa menyimpulkan.
“Kalau dilihat, dapurnya sebenarnya sudah memenuhi standar kesehatan dan sanitasi. Jadi kita belum bisa langsung menyimpulkan ada masalah di dapur. Harus menunggu hasil laboratorium untuk memastikan,” katanya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor melalui Kabid P2P, Adang Sumpena, mengatakan pihaknya sudah mengambil sampel makanan untuk diperiksa.
“Sampel makanan sudah kita ambil. Tinggal menunggu hasil uji laboratorium. Jadi, kita belum bisa memastikan penyebab pastinya sekarang. Biasanya, hasil uji laboratorium makanan membutuhkan waktu sekitar dua minggu,” ujar Adang.
Sementara itu, Kepala SDN Pasir Angin 02, Hawa Hasmillah, menyebut makanan yang dikonsumsi siswa berasal dari penyedia katering MBG.
“Menunya ada makaroni, kemudian ada lauk yang ditumis seperti ayam dan daging dicampur dengan mayones sebagai bumbu. Ada juga jeruk. Semua makanan dimasak di dapur MBG,” ungkap Hawa.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty, memastikan pihaknya akan memperketat pengawasan makanan siap saji yang didistribusikan ke sekolah-sekolah.
“Sehingga nanti kita bersama-sama untuk mengadakan pengawasan terhadap makanan-makanan yang didistribusikan. Sementara untuk SPPG juga tetap kita lakukan inspeksi kesehatan lingkungan,” ujarnya.
Menurutnya, inspeksi sudah dilakukan ke pihak penyedia makanan (SPPG) yang menyalurkan konsumsi ke sembilan sekolah dengan total lebih dari 2.000 siswa. Selain itu, sampel makanan dan air juga telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium.
“Lingkungannya cukup baik dari hasil inspeksi, namun kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari sampel makanan dan air. Saya minta semua pihak menunggu hasil yang objektif,” jelas dr. Fusia.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut kesehatan anak-anak di lingkungan sekolah. Pihak kepolisian, dinas kesehatan, serta sekolah berkomitmen menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab utama siswa mengalami mual dan muntah tersebut. (mang uka)













