berantas86news | Cisarua Bogor, 21 April 2026 – Kirab Mahkota Binokasih Sanghyang Pake IV resmi digelar pada Selasa (21/4/2026), dengan rute perjalanan yang melintasi sejumlah titik sakral dan bersejarah di Jawa Barat, termasuk kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. Prosesi budaya ini menjadi simbol kuat pelestarian warisan leluhur Sunda di tengah dinamika modernisasi.
Kirab dimulai dari Keraton Sumedang Larang sebagai titik awal, kemudian bergerak menuju kawasan Puncak. Rombongan kirab melintasi sejumlah lokasi penting, di antaranya HBI Puncak, Curug Jaksa, hingga ke Makam Tubagus Andung Bale Ageung Padjajaran Kiwari. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan singgah di Balai Desa Cibeureum sebelum berakhir di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta.
Kegiatan kirab dijadwalkan berlangsung selama dua hari, 21 hingga 22 April 2026, sebagai bagian dari upaya konkret dalam menjaga eksistensi sejarah sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya Sunda yang diwariskan secara turun-temurun.
Kirab Mahkota Binokasih tidak sekadar menjadi seremoni budaya, melainkan mengandung makna historis yang mendalam. Mahkota tersebut dikenal sebagai simbol legitimasi kekuasaan kerajaan Sunda pada masa lampau, sekaligus representasi kejayaan peradaban yang hingga kini tetap dijaga sebagai identitas budaya masyarakat Sunda.
Sepanjang perjalanan kirab, antusiasme masyarakat terlihat tinggi. Warga dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, tokoh masyarakat hingga budayawan, turut menyambut rombongan dengan nuansa adat Sunda yang kental. Momentum ini sekaligus menjadi sarana edukasi budaya yang efektif, khususnya bagi generasi muda.
Ketua panitia, H. Cecep Gogom, mengungkapkan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak terlepas dari kuatnya rasa kebersamaan di tengah berbagai keterbatasan.
“Yang menarik bagi masyarakat itu adalah rasa. Ketika rasa sudah terbangun, semuanya menjadi terhubung. Dengan keterbatasan anggaran dan waktu yang singkat, kami tetap bisa melaksanakan kegiatan ini secara positif dan maksimal,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena belum seluruh elemen budaya dapat terlibat. Meski demikian, secara keseluruhan pelaksanaan kirab dinilai berjalan optimal, baik dari aspek ritual, edukasi, administrasi, maupun seremoni.
Menurutnya, kirab ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk memahami nilai-nilai luhur budaya Sunda, seperti filosofi silih asah, silih asih, silih asuh.
“Ini adalah gerbang awal untuk perubahan perilaku melalui edukasi budaya yang diwariskan oleh karuhun. Ke depan, kami berharap dapat membentuk komunitas atau bahkan dewan kemajuan budaya,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan Pemerintah Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai kirab memiliki nilai edukatif yang strategis dalam memperkuat pemahaman sejarah dan budaya di kalangan masyarakat.
“Kami dari Pemkab Bogor mengucapkan terima kasih kepada panitia. Yang terpenting, kegiatan ini memberikan edukasi kepada masyarakat. Ke depan, kami telah menyiapkan materi pembelajaran sejarah dan seni budaya untuk dimasukkan sebagai muatan lokal di tingkat SD dan SMP,” jelasnya.
Program tersebut direncanakan mulai diterapkan pada tahun ajaran baru, sebagai bagian dari penguatan kurikulum berbasis kearifan lokal di lingkungan pendidikan.
Dengan digelarnya Kirab Mahkota Binokasih di kawasan Puncak Bogor, semangat pelestarian budaya Sunda kembali digaungkan. Kegiatan ini tidak hanya memperkokoh identitas budaya lokal, tetapi juga menjadi jembatan edukasi lintas generasi dalam menjaga warisan leluhur di tengah arus globalisasi yang semakin masif. (MU)














