Peringatan Hari Air Sedunia di Puncak, Pemerintah Dorong Aksi Nyata Hadapi Krisis Air dan Perubahan Iklim

oleh -218 Dilihat
banner 468x60

berantas86news | Cisarua Bogor – Dalam memperingati Hari Air Sedunia yang diperingati setiap 22 Maret, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menggelar rangkaian kegiatan bertema Water and Gender di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Minggu (5/4/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di Gunung Mas Agrowisata-bagian dari PTPN I Regional 2-ini diisi dengan aksi nyata pelestarian lingkungan, antara lain penanaman 1.500 pohon, penyerahan bantuan perahu karet, alat pembuat lubang biopori, serta distribusi 500 tabung biopori kepada masyarakat di 10 desa wilayah Kecamatan Cisarua. Selain itu, kegiatan juga dirangkaikan dengan sarasehan bersama komunitas sungai, Saka Kalpataru, serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor.

banner 336x280

Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menegaskan bahwa peringatan Hari Air Sedunia menjadi momentum strategis untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap ancaman krisis air yang semakin nyata.

“Pagi ini kita memperingati Hari Air Sedunia di lokasi ini untuk mengingatkan betapa vitalnya fungsi air dalam kehidupan. Saat ini kita memang sedang menghadapi krisis air. Sekitar 71 persen permukaan bumi adalah air asin yang tidak dapat langsung dimanfaatkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketersediaan air tawar yang dapat digunakan manusia sangat terbatas, dengan sebagian besar tersimpan dalam bentuk es di wilayah kutub. Sementara itu, sumber air yang dapat dimanfaatkan sehari-hari hanya berasal dari sungai, danau, serta air tanah yang jumlahnya kian tertekan.

Menurut Diaz, perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan ke sungai turut memperburuk kondisi tersebut. “Jika sungai tercemar, maka suplai air bersih akan terganggu dan berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa perubahan iklim juga berdampak signifikan terhadap siklus hidrologi. Curah hujan ekstrem berpotensi memicu banjir, sementara peningkatan suhu mempercepat penguapan air, yang pada akhirnya memperparah ketidakseimbangan ketersediaan air.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah mendorong penerapan teknologi sederhana seperti lubang biopori sebagai alternatif sumur resapan yang mudah diadopsi masyarakat. “Kami membagikan 500 biopori untuk 10 desa di Cisarua. Alatnya sederhana, namun efektif dalam meningkatkan daya serap air tanah sekaligus mengurangi risiko banjir,” jelasnya.

Selain itu, gerakan penanaman pohon dinilai sebagai upaya krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem air. Diaz mengimbau masyarakat untuk menggalakkan gerakan satu orang satu pohon, atau minimal satu rumah satu pohon, sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap lingkungan.

Sementara itu, Region Head PTPN I Regional 2, Desmanto, menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab korporasi dalam menjaga kelestarian lingkungan di kawasan Puncak.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini melalui penanaman pohon dan penyediaan biopori, sehingga air dapat terserap ke dalam tanah dan menjadi cadangan air bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga berkomitmen dalam pengelolaan sampah di kawasan Gunung Mas. Seluruh sampah dari aktivitas operasional akan dikumpulkan dan dikelola sesuai dengan ketentuan lingkungan yang berlaku, termasuk melalui kerja sama dengan mitra KSO.

“Pengelolaan sampah merupakan kewajiban kami sebagai pengelola kawasan. Ke depan, akan disiapkan lokasi khusus untuk pengolahan sampah terpadu di Gunung Mas,” tandasnya.

Melalui rangkaian kegiatan ini, pemerintah berharap kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya air dan lingkungan hidup semakin meningkat, sebagai langkah antisipatif menghadapi tantangan krisis air dan dampak perubahan iklim di masa mendatang. (MU)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.