“Robot Canggih, Tapi Realita Masih Ambruk”

oleh -38 Dilihat
banner 468x60

berantas86news | Belum juga reda kabar pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek yang menyeret triliunan rupiah ke jalur penyidikan, kini muncul berita baru yang tak kalah mencengangkan:
Robot Polisi.

Namanya keren: i-K9. Fungsinya canggih: bisa patroli, mendeteksi korban, mengatur kerumunan.
Tapi yang bikin rakyat geleng-geleng bukan kemampuannya,
melainkan harganya: nyaris Rp 3–4 miliar per unit.

banner 336x280

Lima robot sudah diluncurkan dalam perayaan HUT Bhayangkara di Monas.
Disambut tepuk tangan… dan desahan panjang di warung kopi.

“Sekarang polisi punya robot,” kata satu warga.
“Tapi pos kamling di kampung saya masih roboh sejak pandemi.”

Harga Kemajuan atau Harga Kebutuhan?

Teknologi memang penting.
Tapi di negeri berkembang dengan karakter khas—
di mana masih banyak sekolah beratap langit dan puskesmas tanpa obat—
apakah robot miliaran benar-benar urgen?

Di marketplace luar negeri, robot serupa bisa dibeli seharga Rp 24 juta–50 juta.
Tapi begitu masuk negeri kita, angka jadi beranak-pinak.
Tentu kita ingin percaya bahwa robot ini dilengkapi fitur lokal, sensor tambahan, pelatihan operator, dan biaya transfer teknologi.

Tapi publik sudah terlalu sering mendengar alasan seperti itu—
untuk menutupi sesuatu yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa ditandatangani.

Rakyat Bertanya Sederhana

Kami tak ingin mencela teknologi.
Kami hanya bertanya:

Apakah robot ini benar-benar membantu keamanan, atau hanya sekadar demo kecanggihan?

Kenapa proyek dengan embel-embel “modernisasi” selalu datang bersamaan dengan aroma markup?

Kalau robot tidak bisa disuap, apakah proses pengadaannya juga bebas dari sogokan?

Dari Lensa Rakyat

Kami ini rakyat biasa.
Kami bukan insinyur, bukan pengamat anggaran.
Tapi kami tahu rasanya:

Anak-anak belajar tanpa laptop,

Jalanan gelap tanpa lampu,

Ibu hamil antre berjam-jam di puskesmas karena dokter datang dua minggu sekali.

Dan tiba-tiba kami mendengar kabar bahwa negara punya robot anjing patroli seharga 3 miliar rupiah per ekor.

Maaf, kami jadi bertanya-tanya:
Negara ini sedang membangun masa depan, atau sedang bermain teknologi demi citra?

Penutup yang Tak Butuh Sensor

Kalau benar ini demi rakyat,
berilah bukti, bukan hanya seremoni.

Kalau robot itu bagian dari solusi,
pastikan dulu masalah utamanya diurus, bukan didekor.

Karena robot bisa memindai wajah,
tapi hanya hati manusia yang bisa membedakan mana keadilan dan mana kepentingan.

Dari kami yang masih percaya:
Lebih baik pos ronda dijaga manusia ikhlas, daripada robot canggih yang dibeli dari niat yang bengkok.

Ilustrasi – Redaksi

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.