Tausiyah Jum’at
berantas86news | Bogor, 11/4/2025 – Ada satu jenis penyakit yang tak terlihat oleh rontgen, tak terdeteksi oleh stetoskop, tapi membusuk di dalam dada—namanya: ilmu tanpa amal.
Ia seperti hujan yang turun ke tanah tandus—turun, tapi tak tumbuh. Datang, tapi tak berbuah.
Hari ini kita bangga dengan pengetahuan. Bangga bisa menjelaskan dalil, mengutip kitab, mengucap bijak kata-kata. Tapi izinkan saya bertanya:
> Sudahkah ilmu itu menjelma menjadi akhlak di rumah?
Sudahkah ia menjadi sabar saat diuji?
Sudahkah ia menjadi derma saat melihat yang papa?
Rasulullah SAW bersabda:
“Ilmu tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah.”
(HR. Ad-Dailami)
Dan Allah pun mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
(QS. Ash-Shaff: 2-3)
Ilmu yang hanya mengalir di lisan, atau menari-nari di kertas, belum cukup. Ia seperti sungai yang indah dipandang, tapi tak bisa diminum. Kita butuh ilmu yang mengalir ke hati, lalu bergerak di tangan dan kaki.
Ilmu itu seperti cahaya. Tapi jika tidak dinyalakan dalam amal, ia hanya akan menjadi kilatan sesaat di kegelapan. Kita butuh cahaya yang menuntun langkah, bukan sekadar menyilaukan mata.
Maka mulailah dari yang sederhana:
Jika tahu sabar itu mulia, latih diri untuk tidak mudah marah.
Jika tahu kejujuran itu tinggi derajatnya, jangan berdusta meski sekali.
Jika tahu salat itu tiang agama, jangan remehkan waktunya.
Tak perlu menunggu sempurna.
Karena ilmu akan menjadi keberkahan, bukan saat dipelajari, tapi saat diamalkan.
Mari kita jujur di hadapan Allah:
Apakah ilmu yang kita tahu, sudah benar-benar kita jalani?
Jangan sampai kita menjadi orang yang disebut Imam Al-Ghazali:
“Banyak orang binasa karena ilmunya sendiri, karena mereka tahu tapi tidak melaksanakan.”
Hari ini, ubah satu ilmu menjadi amal. Besok, tambah satu lagi. Karena di akhirat nanti, bukan seberapa banyak yang kita tahu, tapi seberapa banyak yang kita kerjakan.
Ridwan, M.Pd.
Pendidik, Penulis, dan Pembelajar Sepanjang Hayat












