Melalui Haji Mumu, Aktivis Puncak Titip Pesan untuk KDM: “Puncak Diperkosa Keadaan Sejak 1986, Saatnya Revolusi Infrastruktur”

oleh -15 Dilihat
banner 468x60

berantas86news | Puncak Bogor, 2 Juni 2025 – Keluhan terhadap kondisi kawasan wisata Puncak kembali mengemuka. Seorang aktivis yang juga mewakili masyarakat adat Puncak menitipkan masukan kritis kepada Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), melalui tokoh masyarakat Haji Mumu, agar pemerintah provinsi segera mengambil langkah konkret dan menyeluruh dalam menangani kemacetan serta ketidakteraturan kawasan wisata unggulan ini (1/6/2025).

“Sejak tahun 2008 bahkan sejak 1986, Puncak ini sudah ‘diperkosa’ oleh keadaan. Sistem one way yang dulunya bersifat sementara, kini justru menjadi permanen tanpa kajian jangka panjang,” ujar aktivis tersebut dalam pernyataannya yang disampaikan melalui Haji Mumu.

banner 336x280

Kemacetan Kronis, Solusi Setengah-Setengah

Ia menyoroti bahwa akar persoalan sebenarnya bukan semata pada kepadatan lalu lintas, melainkan pada absennya rekayasa infrastruktur yang nyata. “Kita masyarakat adat Puncak sudah pernah mengusulkan solusi. Masalah utama ada di lima titik kemacetan. Tapi yang dilakukan selalu rekayasa lalu lintas, bukan rekayasa infrastruktur,” tegasnya.

Ia menjelaskan, saat ini wisata di kawasan Puncak sudah berkembang hingga ke gang-gang kecil, namun tidak disertai kesiapan infrastruktur. Gang sempit, jalan tak teratur, dan minim pengawasan tata ruang membuat kemacetan menjadi fenomena harian, baik dari jalur utama maupun jalan alternatif.

“Dari atas macet, dari dalam juga mengular. Solusinya? Duduk bareng, Pak Gubernur! Kita sudah punya data kelima titik itu,” ucapnya penuh harap.

Lima Titik Genting yang Butuh Solusi Nyata

Berikut ini adalah titik-titik kemacetan krusial yang diidentifikasi oleh masyarakat:

1. Depan Starbucks Kopi Vimalla Hills – Simpang Tiga Pasirmuncang
Solusi jangka panjang: pembangunan flyover untuk mengurai kemacetan permanen.

2. Jembatan Gadog – Pasir Angin
Butuh rekayasa jalur keluar alternatif untuk kendaraan dari arah tol dan bawah.

3. Masjid Mega Mendung
Akses jalan terlalu sempit dan menjadi titik perlambatan lalu lintas utama.

4. Jalan Hankam
Mulut jalan yang kecil menyebabkan kerap terjadi penumpukan kendaraan saat akhir pekan.

5. Pasar Cisarua
Aktivitas ekonomi di kiri-kanan jalan membuat arus kendaraan tersendat hebat.

“Jangan hanya akali lalu lintas. Mari rekayasa kebijakan dan infrastruktur. Jalan perintis seperti Exciting Selatan dan Exciting Utara sudah mulai dibuka. Ayo lanjutkan! Jangan setengah-setengah,” ujarnya menutup pernyataan.

Tanggapan Camat Megamendung Ridwan, S.Sos.: Pelebaran Jalur Selatan Sudah Dimulai

Menanggapi kritik dan masukan tersebut, Camat Megamendung menyampaikan bahwa sejak menjabat, ia telah memprioritaskan pelebaran jalur selatan sebagai bagian dari agenda kerja kecamatan.

“Sejak saya menjabat Camat Megamendung, pelebaran jalur selatan menjadi komitmen utama. Hingga 2 Juni ini, sudah ada beberapa titik yang ditetapkan sebagai sasaran pelebaran jalan,” ungkapnya.

Camat berharap dukungan dari pemerintah provinsi untuk percepatan pembangunan ini bisa segera direalisasikan. Menurutnya, sinergi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menyelamatkan wajah dan masa depan Puncak sebagai kawasan wisata dan hunian yang manusiawi.

Kini masyarakat menanti aksi nyata dari Gubernur KDM. Apakah rekayasa lalu lintas akan terus jadi “jawaban tunggal”? Atau sudah saatnya Jawa Barat mengubah arah dengan kebijakan yang berani, menyeluruh, dan berpihak pada rakyat? (mang uka)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.