berantas86news | Cileungsi Bogor, 11 Juni 2025 – Menyikapi temuan kasus HIV di wilayahnya, Pemerintah Desa Cileungsi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, mengadakan kegiatan penyuluhan penyakit menular berbahaya sebagai upaya edukatif dan preventif bagi masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan di balai desa ini diikuti lebih dari 90 peserta dari berbagai unsur masyarakat, termasuk kader Posyandu, RT, RW, dan perangkat desa, Dokter Puskesmas dan Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Bogor.
Kepala Desa Cileungsi, Baban Subandi, A.Md., dalam wawancaranya menyampaikan bahwa kegiatan ini diadakan karena telah ditemukan kasus HIV di desa tersebut. “Menurut informasi yang kami terima, memang sudah ada kasus HIV di Desa Cileungsi. Karena itu, kami mengalokasikan dana desa untuk menyelenggarakan sosialisasi penanggulangan HIV, termasuk pelaksanaan tes rapid hari ini,” ujar Baban.
Sebagian peserta kegiatan juga menjalani tes cepat HIV sebagai bagian dari upaya deteksi dini. “Pesertanya lebih dari 90 orang, terdiri dari 50 anggota Kader Posyandu, 30 RT, 5 RW, dan 2 KADUS. Harapan kami, mereka bisa menjadi penyambung informasi ke masyarakat luas,” tambahnya.
Menurut Baban, edukasi ini penting untuk menghindari terjadinya penularan baru. “Kami ingin masyarakat tahu bagaimana HIV menular dan bagaimana menghindarinya. Kami juga belajar dari Pak Muksin, ternyata penyebaran HIV di tingkat kabupaten sudah sangat serius. Sebagian besar memang berasal dari komunitas dengan pemahaman seksual yang rendah.”
Ia menekankan bahwa meskipun data kasus tidak sepenuhnya terbuka karena alasan privasi, masyarakat perlu peka. “Kalau ada satu kasus yang terdeteksi, bisa jadi ada banyak yang belum terungkap. Ini yang paling berbahaya karena kurangnya kesadaran.”
Peran Yayasan Lekas dan Komisi Penanggulangan AIDS
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Yayasan Lekas dan Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Bogor. Ketua Yayasan Lekas sekaligus Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Bogor, Muksin, S.Ag., menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai bentuk respons cepat terhadap meningkatnya kasus HIV, khususnya di Kecamatan Ciawi.
“Peran Lekas di Desa Cileungsi sangat penting. Kami mengapresiasi inisiatif pemerintah desa Cileungsi yang menyelenggarakan kegiatan ini. Sudah ada warga yang terinfeksi HIV, bahkan ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua,” ungkap Muksin.
Menurutnya, kegiatan ini terdiri dari dua langkah besar: promosi dan preventif. “Promosi dilakukan melalui edukasi tentang bahaya HIV, cara penularan, serta pentingnya tidak mendiskriminasi orang yang terinfeksi. Preventif akan kami realisasikan melalui pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA) di setiap RW hingga RT.”
Lebih lanjut, Muksin menjelaskan bahwa struktur WPA akan diperkuat hingga ke tingkat desa dan RW, melibatkan elemen masyarakat seperti pemuda, kader Posyandu, dan tokoh agama. “Kami bahkan sudah membentuk kelompok Ustadz Peduli AIDS yang tahun lalu dideklarasikan. Tujuannya, agar pesan-pesan pencegahan bisa disampaikan dari mimbar ke mimbar,” tambahnya.
Ancaman HIV pada Generasi Muda
Muksin juga mengungkapkan keprihatinan atas meningkatnya jumlah kasus HIV di kalangan generasi muda. “Angka tertinggi ditemukan pada kelompok usia produktif, terutama di bawah usia 25 tahun. Ini sangat mengkhawatirkan karena menyangkut masa depan bangsa.”
Ia menambahkan bahwa penularan HIV mayoritas terjadi melalui hubungan seksual berisiko, baik antar lawan jenis maupun sesama jenis. “Penyakit ini belum ada obatnya. WHO menyebut satu orang positif HIV bisa jadi menyembunyikan potensi hingga 100 orang lainnya juga terinfeksi. Ini fenomena gunung es yang harus diantisipasi bersama.”
Harapan ke Depan
Baban Subandi berharap kegiatan ini menjadi langkah awal yang berdampak luas. “Kami akan libatkan tokoh agama dan masyarakat agar edukasi bisa terus berjalan. Harapannya, tidak ada lagi penularan baru. Masyarakat harus paham bahwa pencegahan bisa dimulai dari rumah.”
Dengan dukungan penuh dari Yayasan Lekas dan Dinas Kesehatan, Pemerintah Desa Cileungsi optimis bisa menekan angka kasus HIV dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat dan bertanggung jawab. (mang uka)












