berantas86news | CIAWI, BOGOR – RSUD Idham Chalid Ciawi menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sekaligus membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, saran, dan masukan konstruktif.
Komitmen tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Idham Chalid Ciawi, dr. Agus Fauzy, dalam Forum Konsultasi Publik yang digelar di lingkungan rumah sakit, Selasa (11/8/2026).
Menurut Agus, masukan masyarakat merupakan bagian penting dalam proses evaluasi pelayanan. Rumah sakit, kata dia, tidak boleh berhenti melakukan perbaikan karena kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan terus berkembang.
“Pelayanan tidak ada yang sempurna, tetapi kami akan terus berupaya melakukan penyempurnaan. Kami terbuka terhadap kritik yang membangun demi perbaikan layanan kepada masyarakat,” ujar Agus.
Ia menegaskan, salah satu prinsip yang menjadi perhatian rumah sakit adalah memastikan pasien tetap mendapatkan akses pelayanan. Apabila kondisi pasien membutuhkan layanan yang belum tersedia di RSUD Idham Chalid Ciawi, pasien akan diarahkan dan dibantu untuk mendapatkan pelayanan lanjutan di fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan lebih lengkap.
“Tidak boleh ada lagi penolakan pasien. Jika memang membutuhkan rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap, kami akan membantu proses rujukannya,” tegasnya.
Dorong Budaya Pelayanan 5S
Dalam meningkatkan kualitas interaksi antara petugas dan pasien, manajemen rumah sakit juga mendorong seluruh tenaga kesehatan dan staf menerapkan budaya 5S, yakni Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun.
Budaya tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi slogan, tetapi menjadi bagian dari perilaku sehari-hari dalam memberikan pelayanan yang ramah, humanis, dan responsif.
Namun, peningkatan kualitas pelayanan tidak hanya berkaitan dengan kecepatan atau fasilitas. Cara rumah sakit berkomunikasi dengan pasien dan masyarakat juga dinilai memiliki peran penting.
Hal tersebut disampaikan Maria Fitriyah, dosen Universitas Djuanda Bogor, yang memberikan pandangan akademis dalam Forum Konsultasi Publik tersebut.
Menurut Maria, rumah sakit merupakan harapan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, sekaligus memenuhi kebutuhan dan kepuasan pasien.
“Dalam konteks pelayanan kesehatan, pasien adalah jantung dari pelayanan rumah sakit. Karena berada dalam kondisi sakit, pasien tentu membutuhkan rasa aman, nyaman, serta mendapatkan informasi yang jelas mengenai pelayanan maupun kondisi yang sedang dihadapinya,” kata Maria.
Komunikasi Empatik Dinilai Jadi Kunci
Maria menilai, dari perspektif akademisi, aspek komunikasi kesehatan menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan pelayanan prima.
Komunikasi yang dibangun antara tenaga kesehatan dan pasien, menurut dia, harus mengedepankan pendekatan empatik. Artinya, tenaga kesehatan maupun pihak rumah sakit harus mampu menempatkan diri pada posisi pasien.
Pasien membutuhkan informasi yang jelas, sederhana, mudah dipahami, serta disampaikan secara efisien. Jangan sampai informasi yang sebenarnya penting justru sulit dipahami karena menggunakan bahasa yang terlalu teknis.
“Komunikasi yang dibangun harus mengedepankan komunikasi yang empatik. Pasien membutuhkan informasi yang jelas, sederhana, mudah dipahami, dan disampaikan dengan cara yang efisien,” ujarnya.
Menurut Maria, komunikasi antara rumah sakit dan masyarakat juga tidak cukup hanya mengandalkan media sosial atau media massa.
Rumah sakit dapat memanfaatkan berbagai media komunikasi lain, seperti poster, leaflet, serta media visual yang dapat dengan mudah diakses masyarakat.
Pendekatan secara langsung kepada masyarakat juga dinilai penting. Rumah sakit dapat menggandeng pemerintah desa melalui berbagai kegiatan masyarakat, seperti posyandu, forum pertemuan desa, maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya.
“Rumah sakit dapat membangun komunikasi terlebih dahulu dengan kepala desa atau perangkat desa, kemudian informasi tersebut diteruskan kepada masyarakat,” katanya.
Menurut Maria, pola komunikasi tersebut penting karena rumah sakit tidak cukup hanya menunggu masyarakat datang ketika membutuhkan pelayanan.
Rumah sakit, kata dia, perlu hadir secara aktif memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat.
Pelayanan Obat Bisa Dikembangkan Secara Digital
Selain komunikasi, Maria juga menyoroti pentingnya inovasi dalam pelayanan obat.
Ia menilai rumah sakit dapat mempertimbangkan pemanfaatan platform atau aplikasi layanan kesehatan digital untuk memberikan kemudahan kepada pasien, terutama mereka yang berada dalam kondisi lemah atau membutuhkan akses pelayanan secara cepat.
“Pasien dalam kondisi sakit tentu membutuhkan kemudahan. Apalagi untuk kondisi yang sifatnya mendesak atau urgent, akses terhadap pelayanan harus cepat dan efisien,” ujarnya.
Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan, kata Maria, adalah sistem pelayanan obat yang memungkinkan obat diantar langsung ke rumah pasien sesuai ketentuan dan prosedur yang berlaku.
Menurutnya, inovasi tersebut dapat menjadi bagian dari transformasi pelayanan rumah sakit yang lebih berorientasi kepada kebutuhan pasien.
Lebih dari 50 Persen Pasien Masih Daftar Onsite
Sementara itu, dari sisi pelayanan rawat jalan, RSUD Idham Chalid Ciawi terus mendorong masyarakat memanfaatkan aplikasi NJKM untuk melakukan pendaftaran lebih awal.
Masyarakat diimbau melakukan pendaftaran setidaknya satu hari sebelum jadwal kedatangan. Dengan demikian, pasien diharapkan dapat langsung menuju poli yang dituju sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Namun, pemanfaatan layanan digital tersebut masih menghadapi tantangan. Berdasarkan evaluasi yang disampaikan pihak pelayanan rumah sakit, lebih dari 50 persen pasien rawat jalan masih melakukan pendaftaran secara langsung atau onsite pada hari pelayanan.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan kolaborasi antara rumah sakit dan masyarakat.
Rumah sakit perlu terus memperkuat sosialisasi mengenai manfaat pendaftaran digital, sementara masyarakat didorong untuk memanfaatkan fasilitas yang telah tersedia agar proses pelayanan dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.
Standar Waktu Pelayanan Dua Jam
Kepala Seksi Pelayanan RSUD Idham Chalid Ciawi menjelaskan, rumah sakit memiliki standar waktu pelayanan rawat jalan mulai dari proses pendaftaran hingga pasien memperoleh obat di farmasi.
“Untuk pelayanan rawat jalan, standar waktunya secara keseluruhan mulai dari pendaftaran sampai mendapatkan obat di farmasi adalah sekitar dua jam,” jelasnya.
Standar tersebut terbagi dalam sejumlah tahapan. Waktu pelayanan di bagian pendaftaran ditargetkan kurang dari 15 menit, sedangkan pelayanan di poli atau klinik ditargetkan kurang dari satu jam.
Sementara di instalasi farmasi, waktu tunggu obat nonracikan ditargetkan kurang dari 30 menit, sedangkan obat racikan maksimal sekitar satu jam.
Pihak rumah sakit mengakui masih terdapat kondisi tertentu yang menyebabkan waktu tunggu belum sepenuhnya sesuai standar. Karena itu, evaluasi dan berbagai langkah percepatan terus dilakukan.
Salah satunya melalui penerapan e-resep. Resep yang dikeluarkan dokter diproses melalui sistem elektronik dengan harapan dapat memangkas tahapan pelayanan dan memperpendek waktu tunggu pasien di farmasi.
Kelompok Rentan Mendapat Perhatian Khusus
Selain mempercepat pelayanan secara umum, RSUD Idham Chalid Ciawi juga menyediakan mekanisme pelayanan bagi pasien dengan kondisi khusus.
Pasien lanjut usia, ibu hamil, anak-anak yang membawa bayi, serta penyandang disabilitas mendapatkan perhatian khusus dalam proses pelayanan.
Rumah sakit menyebut telah menyediakan lokasi tersendiri bagi pasien dengan kondisi tersebut sebagai bagian dari upaya menghadirkan pelayanan yang lebih aman dan nyaman.
Pasien BPJS dan Umum Dijamin Setara
Persoalan kesetaraan pelayanan antara pasien peserta BPJS Kesehatan dan pasien umum juga menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dalam forum.
Pihak RSUD Idham Chalid Ciawi menegaskan tidak ada pembedaan kualitas pelayanan antara pasien BPJS dan pasien umum.
“Untuk pelayanan, insyaallah semuanya sama. Tidak ada pembedaan antara pasien BPJS dan non-BPJS. Semua mendapatkan kualitas pelayanan yang sama,” tegas pihak pelayanan rumah sakit.
Adapun perbedaan yang terdapat dalam pelayanan rawat inap berkaitan dengan kelas perawatan, seperti VIP, kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Perbedaan tersebut berkaitan dengan fasilitas kamar, bukan kualitas pelayanan medis.
Pengaduan Masyarakat Jadi Bahan Evaluasi
Dalam forum tersebut, manajemen rumah sakit juga menegaskan pentingnya kritik dan pengaduan masyarakat sebagai bagian dari evaluasi pelayanan.
Setiap masukan dinilai dapat menjadi indikator bagi rumah sakit untuk mengetahui bagian pelayanan yang masih membutuhkan perbaikan.
Manajemen RSUD Idham Chalid Ciawi menyatakan terbuka terhadap kritik dan saran masyarakat serta berkomitmen terus memperkuat mekanisme pengaduan dan tindak lanjutnya.
Maria Fitriyah menilai keterbukaan tersebut perlu diikuti dengan komunikasi publik yang konsisten agar masyarakat mengetahui bagaimana pelayanan rumah sakit bekerja, apa saja yang tersedia, serta bagaimana cara memperoleh pelayanan ketika membutuhkan.
Bangun Kepercayaan Publik melalui Media Digital
Di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, Maria juga mendorong RSUD Idham Chalid Ciawi mengembangkan komunikasi berbasis visual.
Informasi pelayanan, menurut dia, tidak selalu harus disampaikan dalam bentuk teks panjang. Konten visual, animasi, audio visual, video edukasi, bahkan film pendek dapat menjadi alternatif komunikasi yang lebih mudah diterima masyarakat.
“Pemanfaatan media visual tersebut bukan semata-mata untuk kepentingan promosi atau branding rumah sakit. Lebih dari itu, media tersebut dapat digunakan untuk membangun dan memperkuat kepercayaan publik terhadap pelayanan rumah sakit,” ujarnya.
Menurut Maria, pelayanan prima pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai bagaimana tenaga kesehatan memberikan pelayanan ketika pasien sudah berada di rumah sakit.
Lebih luas dari itu, pelayanan prima mencakup bagaimana rumah sakit membangun komunikasi, memberikan informasi yang mudah dipahami, menghadirkan akses pelayanan yang lebih mudah, serta membangun kepercayaan masyarakat sebelum mereka datang mendapatkan pelayanan.
Penguatan Layanan Rumah Sakit Tipe B
Sebagai rumah sakit tipe B, RSUD Idham Chalid Ciawi memiliki peran penting sebagai salah satu fasilitas rujukan bagi masyarakat Kabupaten Bogor dan wilayah sekitarnya.
Untuk memperkuat kapasitas pelayanan, manajemen terus mendorong peningkatan sumber daya manusia, khususnya dokter spesialis, serta mengembangkan sejumlah layanan unggulan, termasuk layanan penyakit jantung dan bedah saraf.
Namun, manajemen juga mengakui masih terdapat sejumlah layanan yang belum dapat ditangani secara maksimal.
Karena itu, dukungan dan masukan masyarakat dinilai penting dalam proses pengembangan rumah sakit.
Forum Konsultasi Publik tersebut menjadi ruang dialog antara rumah sakit, masyarakat, dan akademisi. Rumah sakit menyampaikan komitmen perbaikan, sementara masyarakat dan akademisi memberikan masukan dari perspektif pengalaman serta keilmuan.
Melalui forum tersebut, peningkatan kualitas pelayanan diharapkan tidak berhenti pada evaluasi internal, tetapi menjadi proses bersama untuk menghadirkan layanan kesehatan yang semakin cepat, mudah, manusiawi, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. (MU)













