Oleh Kang Rido – berantas86news
Kampung Cidulang baru saja kedatangan warga baru. Namanya Mas Budi, seorang pegawai dari kota yang membeli sepetak tanah di ujung desa untuk dibangun vila peristirahatan. Orangnya ramah, tapi karena jarang bergaul, ia sering membuat kesimpulan sendiri tentang kebiasaan warga kampung.
Jumat siang itu, udara terasa sangat panas. Sambil menunggu waktu sholat Jumat, Mas Budi yang kelelahan setelah bekerja di kebun, memutuskan untuk istirahat sejenak di dalam Masjid Al-Barokah yang sejuk. Di bawah hembusan kipas angin yang pelan, ia pun tertidur pulas di barisan belakang.
Ia tidur begitu nyenyak hingga tak mendengar adzan pertama berkumandang. Ia juga tak mendengar khutbah Jumat yang disampaikan oleh Mang Cecep. Ia baru terbangun saat seorang warga menepuk pundaknya dengan keras.
“Mas! Mas Budi! Hayu, tos qomat!” (Mas! Mas Budi! Ayo, sudah iqamah!).
Mas Budi yang kaget, langsung bangun dengan keadaan lolongokan (bingung dan celingak-celinguk). Ia melihat jamaah lain sudah berdiri rapi. Tanpa sempat mencuci muka, ia langsung ikut masuk ke dalam saf. Imam pun langsung takbir, dan mereka sholat dua rakaat.
Bagi Mas Budi, pengalamannya hari itu adalah: datang ke masjid, tidur sebentar, dibangunkan, lalu langsung sholat dua rakaat. Tidak ada khutbah sama sekali.
Sore harinya, di gardu ronda, Mas Budi menceritakan “penemuan”-nya itu dengan nada heran.
“Ternyata sholat Jumat di sini beda, ya,” katanya kepada Mang Eman dan yang lainnya. “Saya juga baru tahu. Habis adzan, langsung sholat. Praktis, tidak pakai khutbah. Aliran baru, sepertinya.”
Warga yang mendengar langsung saling pandang. “Ah, maenya?” (Ah, masa iya?) tanya Mang Eman, tidak percaya.
“Betul, Mang! Saya tadi mengalaminya sendiri!” tegas Mas Budi.
Kabar tentang “Aliran Jumatan Tanpa Khutbah” di Masjid Al-Barokah pun menyebar dengan cepat, menimbulkan kebingungan dan sedikit keresahan.
Tepat saat itu, Tulus Ridho datang membawa beberapa potong singkong goreng dari rumahnya. Ia mendengar perdebatan itu, lalu duduk dengan tenang.
“Mas Budi, leres tadi ikut sholat Jumat di masjid?” tanya Tulus. (Mas Budi, betul tadi ikut sholat Jumat di masjid?).
“Betul, Tulus. Tapi ya itu, aneh. Tidak ada khutbahnya,” jawab Mas Budi.
Tulus mengangguk-angguk, wajahnya tampak sangat serius. “Wah, sami atuh sareng pangalaman abdi nonton pilem kamari.” (Wah, sama dong dengan pengalaman saya nonton film kemarin).
“Sama gimana, Tulus?” tanya Mas Budi, penasaran.
“Kamari téh, abdi nonton pilem di HP,” Tulus memulai ceritanya. “Tapi kusabab capé, abdi kalah kasaréan. Hudang-hudang, filmna téh geus bérés, kari aya tulisan ‘TAMAT’ gedé pisan dina layar.” (Kemarin, saya nonton film di HP. Tapi karena lelah, saya malah ketiduran. Bangun-bangun, filmnya sudah selesai, tinggal ada tulisan ‘TAMAT’ besar sekali di layar).
Tulus menatap Mas Budi dengan pandangan polosnya. “Teras, abdi nyarios ka saréréa yén pilem nu ditonton ku abdi téh judulna ‘TAMAT’, eusina ngan ukur tulisan wungkul, teu aya caritana.” (Lalu, saya cerita ke semua orang kalau film yang saya tonton itu judulnya ‘TAMAT’, isinya hanya tulisan saja, tidak ada ceritanya).
Tulus berhenti sejenak, lalu bertanya. “Kira-kirana, Mas Budi, nu salah téh pilemna, atawa nu nontonna bari saré?” (Kira-kira, Mas Budi, yang salah itu filmnya, atau yang nontonnya sambil tidur?).
Semua yang ada di gardu langsung tertawa terbahak-bahak. Wajah Mas Budi yang semula penuh keyakinan, kini merah padam menahan malu. Ia akhirnya sadar bahwa “aliran baru” yang ia temukan itu ternyata lahir dari dengkuran tidurnya sendiri.
Renungan: Bahaya Ilmu Instan dan Tergesa-gesa.
Sholat Jumat adalah ibadah agung yang memiliki kekhususan. Salah satu rukun yang membedakannya dari sholat lain dan menjadi syarat sahnya menurut mayoritas ulama (jumhur ulama) dari empat madzhab adalah adanya dua khutbah. Hal ini didasarkan pada praktik yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli…” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Para ulama menafsirkan bahwa “mengingat Allah” (dzikrillah) dalam ayat ini mencakup sholat dan juga khutbah yang menyertainya. Khutbah berfungsi sebagai nasihat ketakwaan mingguan dan sarana pendidikan bagi umat.
Kisah Mas Budi adalah cerminan dari bahaya mengambil kesimpulan dari informasi yang tidak lengkap. Ia hanya mengalami potongan akhir dari sebuah rangkaian ibadah, lalu dengan tergesa-gesa membangun sebuah teori tentang “aliran baru”. Sikap seperti ini sangat relevan dengan zaman kita sekarang, di mana kita sering melihat judul berita tanpa membaca isinya, atau menonton potongan video ceramah tanpa mengetahui konteks lengkapnya, lalu langsung menyebarkannya seolah-olah kita telah menjadi ahli.
Ini adalah lawan dari prinsip tabayyun (klarifikasi) yang diperintahkan oleh Al-Qur’an. Sebelum menghakimi sebuah praktik sebagai “aneh” atau “aliran baru”, langkah tabayyun yang paling sederhana adalah bertanya. Mas Budi seharusnya bertanya, “Maaf, Bapak-bapak, apa tadi saya ketinggalan sesuatu? Kenapa terasa cepat sekali?” Sebuah pertanyaan rendah hati yang akan menyelamatkannya dari rasa malu.
Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengajarkan kita untuk selalu berbaik sangka (husnudzon) kepada sesama Muslim dan sangat berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan, apalagi tuduhan. Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Pendapatku benar tapi mungkin mengandung kesalahan, dan pendapat orang lain salah tapi mungkin mengandung kebenaran.” Sikap rendah hati seperti inilah yang membuat ilmu menjadi berkah.
Analogi Tulus tentang menonton film sambil tidur sangatlah mengena. Ia mengingatkan kita bahwa seringkali yang keliru bukanlah “objek” yang kita amati, melainkan “kacamata” atau kondisi kita saat mengamatinya. Kita mungkin sedang lelah, emosi, atau hanya memiliki informasi yang sepotong-sepotong.
Maka, mari kita ambil pelajaran dari kisah lucu ini. Sebelum kita heboh dengan “aliran baru” atau “pendapat aneh” yang kita temui, cobalah untuk bertanya pada diri sendiri dulu: “Apakah informasi saya sudah lengkap? Atau jangan-jangan, saya hanya terbangun saat filmnya sudah menunjukkan tulisan ‘TAMAT’?” ***













