Kedatangan Mahkota Binokasih di Talaga Warna Puncak: Menyambung Spirit dan Warisan Kerajaan Sunda

oleh -25 Dilihat
banner 468x60

berantas86news | Cisarua, 21 April 2025, Mahkota Binokasih, sebuah benda pusaka yang sangat berharga dari Kerajaan Sunda, singgah di Telaga Warna, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua. Ini merupakan momen bersejarah yang disambut dengan penuh rasa hormat dan sakral oleh masyarakat setempat, sebelum akhirnya disambut secara resmi oleh Bupati Bogor, Rudy Susmanto, di Cibinong.

Makna Historis Singgahnya Mahkota

banner 336x280

Hj. Rosmaya Intan Diana, seorang guru spiritual dan budayawan Sunda, menjelaskan bahwa singgahnya Mahkota Binokasih di Telaga Warna bukan sekadar sebuah acara, tetapi memiliki makna historis yang mendalam. “Telaga Warna adalah warisan budaya leluhur yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Kehadiran mahkota di sini melambangkan kekuatan alam, sumber kehidupan, serta simbol keselarasan antara manusia dan alam,” ungkapnya.

Mahkota Binokasih merupakan simbol persatuan antara Kerajaan Galuh dan Pakuan Pajajaran pada masa Prabu Siliwangi. Puncak Mandalawangi, yang menjadi batas antara kedua kerajaan besar tersebut, kini dikenal sebagai Menara Telkom, menambah dimensi historis tempat tersebut.

Pelestarian Nilai-Nilai Budaya

Rosmaya menekankan pentingnya mengembalikan Mahkota Binokasih ke tanah asalnya sebelum dibawa ke Pemerintah Kabupaten Bogor, sebagai langkah untuk menyambung kembali spirit Pajajaran. Ia menjelaskan filosofi Binokasih yang mencakup nilai-nilai luhur seperti silih asih (saling mengasihi), silih asah (saling mengasah), silih asuh (saling mengasuh), serta rasa cinta dan hormat terhadap orang tua dan leluhur. “Nilai-nilai ini harus dijaga dan ditanamkan kembali, karena siapa lagi yang akan menjaga warisan budaya Sunda kalau bukan kita?” tegasnya.

Kirab Budaya dan Edukasi

Kepala Desa Tugu Utara, Asep Makmun Nawawi, menambahkan bahwa kirab Mahkota Binokasih ini merupakan bentuk edukasi dan pelestarian budaya Sunda. Acara tersebut dihadiri oleh tokoh adat, kepala desa, serta masyarakat yang memiliki keterkaitan historis dan emosional dengan garis keturunan Pajajaran. Perwakilan dari Sumedang Larang juga turut hadir untuk menyematkan PIN kepada para tokoh lokal sebagai simbol penerus budaya Sunda.

Sejarah Mahkota Binokasih

Mahkota Binokasih dibuat atas prakarsa Raja Galuh, Sanghyang Bunisora Suradipati (1357–1371), dan digunakan dalam pelantikan raja-raja Sunda hingga runtuhnya Kerajaan Sunda pada tahun 1579 akibat serangan Kesultanan Banten. Setelah keruntuhan tersebut, mahkota ini diselamatkan oleh para pembesar kerajaan dan dibawa ke Sumedang Larang, di mana ia tetap menjadi pusaka Kerajaan Sumedang hingga kini.

Kedatangan Mahkota Binokasih di Telaga Warna bukan hanya sebuah acara seremonial, tetapi juga merupakan langkah penting dalam pelestarian dan penguatan identitas budaya Sunda. Momen ini mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali warisan sejarah dan nilai-nilai luhur yang harus dijaga dan dilestarikan oleh generasi mendatang. Dengan semangat ini, diharapkan budaya Sunda dapat terus hidup dan berkembang dalam konteks yang lebih otentik dan relevan. (mang uka)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.