berantas86news | Bogor, 30/12/2025 – Pagi belum sepenuhnya hangat ketika deretan sepeda motor dan kendaraan pribadi berhenti di sejumlah titik Jalan Raya Ciawi–Puncak. Di sisi jalan, tampak warga berjalan kaki dengan tas belanja, sebagian lain menggandeng anak, bahkan ada yang tergesa menuju rumah sakit. Sejak angkutan kota diliburkan, jalur Puncak tak hanya lengang dari angkot, tetapi juga menyisakan persoalan baru bagi masyarakat yang bergantung penuh pada transportasi tersebut.
Kondisi inilah yang mendorong Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS) turun langsung ke lapangan. Melalui aksi sosial bertajuk Sapu Bersih (Saber AMBS), AMBS berupaya mengevakuasi warga yang terlantar akibat kebijakan peliburan angkot di kawasan Ciawi hingga Puncak.
“Mayoritas masyarakat di wilayah ini masih sangat bergantung pada angkot untuk aktivitas sehari-hari. Ketika angkot diliburkan, otomatis pergerakan warga lumpuh,” ujar Ketua AMBS, Muhsin, di sela-sela kegiatan.
Sekitar 20 armada dikerahkan untuk mengangkut pejalan kaki, penumpang yang kelelahan, hingga warga yang hendak berobat. Aksi ini bukan kali pertama dilakukan. AMBS sebelumnya telah menggelar kegiatan serupa pada 24 dan 25 Desember, dan dijadwalkan kembali turun pada 30–31 Desember.
Dampak peliburan angkot terasa hingga ke pelosok kampung. Pedagang kecil terpaksa menghentikan aktivitas karena tidak memiliki sarana transportasi untuk berbelanja. Para pekerja kesulitan berangkat, sementara warga dengan kebutuhan mendesak—seperti berobat ke RSUD Ciawi—harus berjalan kaki di tengah arus lalu lintas kendaraan wisata.
“Tadi kami menemukan warga yang berjalan cukup jauh karena ingin menjenguk keluarganya yang sakit. Ada juga pedagang yang memilih tidak berjualan karena tidak ada angkot,” tutur Muhsin.
Aksi Sapu Bersih ini tak sekadar menjadi solusi darurat, tetapi juga bentuk keprihatinan sekaligus kritik sosial. AMBS menilai kebijakan peliburan angkot perlu dievaluasi agar tidak hanya berorientasi pada kelancaran wisata, namun juga mempertimbangkan kebutuhan dasar masyarakat lokal.
“Kami tidak menolak pengaturan lalu lintas. Namun, kebijakan ini harus adil. Jangan sampai masyarakat kecil menjadi korban,” tegas Muhsin.
Hingga akhir masa libur, AMBS berkomitmen terus hadir di jalanan. Para relawan siap mengantar warga dari titik awal perjalanan hingga ke rumah masing-masing—sebuah bentuk gotong royong yang lahir dari kepekaan sosial.
Di tengah berhentinya angkot, solidaritas warga Bogor Selatan justru bergerak. Jalanan Puncak hari-hari ini menjadi saksi bahwa ketika sistem tak sepenuhnya menjangkau rakyat kecil, kepedulian masyarakatlah yang mengambil peran. (MU)












