Ketika Palu Keadilan Retak: Merenungi Kasus Suap Rp60 Miliar Ketua PN Jaksel

oleh -46 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ridwan, M.Pd. — Pendidik, Pengamat Sosial, dan Pembelajar Sepanjang Hayat

berantas86news | Ciawi, 14/4/2025 – Di tengah kecemasan kolektif bangsa akan rapuhnya sistem penegakan hukum, publik kembali diguncang oleh kabar memilukan: Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Muhammad Arif Nuryanta, ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap senilai Rp60 miliar.

banner 336x280

Bagi saya sebagai pengamat sosial dan seorang pendidik, berita ini bukan sekadar headline media. Ini adalah pukulan telak terhadap moral publik dan ketahanan etis institusi hukum kita. Ketika seorang ketua pengadilan—tokoh yang seharusnya menjadi simbol integritas—diduga menjadikan vonis sebagai komoditas, maka pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang salah, tapi sejauh mana keadilan telah ditinggalkan.

Keadilan, dalam praktiknya, bukan hanya soal hukum. Ia adalah pondasi kepercayaan sosial. Ketika hukum dijalankan dengan adil, masyarakat merasa terlindungi. Tapi ketika hukum menjadi ladang basah, masyarakat tidak hanya kehilangan rasa aman—mereka juga kehilangan arah.

Kasus ini menunjukkan bahwa korupsi tak lagi mengenal sekat profesi. Ia menembus toga dan palu, menodai meja hijau, dan meninggalkan luka di ruang batin rakyat. Mirisnya, dugaan suap ini berkaitan dengan vonis lepas dalam kasus korupsi minyak goreng—sebuah ironi yang menampar nurani kita sebagai bangsa: rakyat antri sembako, elit melicinkan putusan.

Sebagai pendidik, saya khawatir generasi muda menyaksikan ini dan mulai bertanya: “Apakah hukum sungguh-sungguh adil, atau hanya alat mainan bagi yang berkepentingan?”

Maka dari itu, kita tak bisa diam. Masyarakat sipil harus terus mengawasi jalannya proses hukum ini. Media harus memainkan peran sebagai penjaga akuntabilitas, bukan sekadar peliput sensasi. Dan lembaga pendidikan, harus terus menanamkan nilai kejujuran serta keberanian untuk melawan ketidakadilan, walau sekecil apa pun.

Karena hari ini, yang dibutuhkan bukan hanya pembaruan sistem…
Tetapi kebangkitan moral—baik dari dalam maupun luar institusi.

Keadilan yang dibeli adalah bentuk paling telanjang dari pengkhianatan terhadap rakyat. Dan jika hari ini kita diam, maka besok yang jadi korban bisa siapa saja—bahkan anak-anak kita.

Mari tetap mengawal, tetap peduli, dan terus bersuara.
Karena suara publik, adalah pagar terakhir sebelum keadilan benar-benar musnah dari bumi pertiwi.@kang_hari

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.