Mengapa Kita Harus Kembali Menyebut “Murid”: Refleksi Kritis atas Istilah dalam Dunia Pendidikan

oleh -30 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ridwan, M.Pd.

berantas86news | 8/7/2025

banner 336x280

Di tengah perbincangan publik tentang kualitas pendidikan Indonesia, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: istilah. Dalam dunia pendidikan, kata-kata bukan sekadar simbol linguistik, tetapi cerminan filosofi, paradigma, dan arah pendidikan itu sendiri. Salah satu istilah yang layak ditinjau ulang adalah: murid, siswa, dan peserta didik.

1. Bahasa Mencerminkan Makna

Bahasa mencerminkan cara kita melihat dunia. Pilihan istilah “murid”, “siswa”, atau “peserta didik” bukan hanya soal padanan kata, melainkan representasi nilai dan makna. Ketiganya merujuk pada subjek pembelajaran, namun memuat nuansa filosofis yang sangat berbeda.

Murid berasal dari akar kata Arab iradah, yang bermakna kehendak kuat. Murid bukan sekadar penerima ilmu, melainkan pencari ilmu. Ia menempatkan diri sebagai subjek aktif, penuh hormat kepada guru (mursyid), dan siap untuk mengalami transformasi batin.

Siswa, dari akar kata Sanskerta śiṣya, artinya adalah “yang menerima”. Konteks ini lebih netral dan formal. Siswa menjadi penerima ilmu dalam sistem pendidikan tertentu, namun belum tentu terlibat secara emosional atau spiritual dalam prosesnya.

Peserta didik, istilah yang digunakan secara resmi dalam regulasi pendidikan Indonesia, terutama dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Istilah ini bersifat netral, administratif, dan inklusif, mencakup semua jalur pendidikan: formal, nonformal, dan informal.

2. Relasi: Guru dan Murid atau Guru dan Siswa?

Istilah “murid” menyiratkan relasi yang lebih emosional dan etis antara guru dan pembelajar. Ada unsur cinta ilmu, kepercayaan, bahkan adab. Murid bukan hanya datang untuk nilai, tetapi untuk menjadi pribadi yang utuh. Dalam tradisi pesantren, istilah ini sangat hidup.

Sementara itu, “siswa” dalam konteks sekolah formal modern lebih menekankan administrasi, nilai akademik, dan kelulusan. Relasi guru-siswa cenderung bersifat birokratis dan transaksional.

3. Kekuatan Filosofis “Murid” dalam Pembelajaran Transformatif

Dunia pendidikan hari ini cenderung mengejar angka, akreditasi, dan output. Padahal, pendidikan seharusnya menyentuh akar terdalam kemanusiaan: hati, niat, dan karakter. Di sinilah “murid” menjadi istilah yang paling tepat dalam kerangka pendidikan holistik dan pembelajaran mendalam (deep learning).

Ketika seorang anak dianggap murid, maka:

Ia bukan sekadar target nilai, melainkan subjek perubahan.

Guru tidak hanya mengajar, tetapi membimbing.

Proses belajar menjadi transformasi diri, bukan sekadar informasi.

4. Mengapa Guru Perlu Berani Menyebut “Murid”?

Sebagai pendidik, saya mengajak kita untuk kembali menggunakan istilah “murid”—setidaknya dalam relasi personal dan lingkungan sekolah—karena beberapa alasan:

Memuliakan profesi guru: Guru bukan sekadar tenaga pengajar, tetapi pembimbing kehidupan.

Menumbuhkan keinginan belajar: Murid hadir dengan niat dan tekad, bukan sekadar kewajiban formal.

Membangun komunitas belajar yang bermakna: Di ruang kelas yang menyebut “murid”, kita tidak sekadar mengajar, tetapi membangun peradaban.

Penggunaan istilah “murid” adalah pernyataan sikap terhadap model pendidikan yang kita pilih: pendidikan yang memanusiakan manusia, bukan mencetak angka-angka kosong.

5. Penutup: Bukan Sekadar Kata

Dalam dunia yang semakin transaksional, mari kita kembalikan makna pendidikan kepada akar filosofisnya: pembentukan manusia seutuhnya. Dan itu dimulai dari bagaimana kita menyebut anak-anak di hadapan kita—mereka bukan sekadar siswa atau peserta didik. Mereka adalah murid, penerus nilai, dan calon manusia paripurna.

Daftar Referensi

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2. KBBI Daring. (2023). Murid. Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/

3. Kompasiana. (2018). Antara Murid, Siswa, dan Peserta Didik. https://www.kompasiana.com

4. Wikipedia Indonesia. (2024). Peserta Didik. https://id.wikipedia.org/wiki/Peserta_didik

5. Sekolah Adab. (2020). Mengapa Murid Bukan Siswa? https://sekolahadab.id/mengapa-murid-bukan-siswa

6. Academia.edu. (2016). Pengertian Murid, Siswa, dan Peserta Didik.

7. Melintas.id. (2024). Anda Guru? Wajib Baca! Makna di Balik Istilah Murid, Siswa, dan Peserta Didik. https://www.melintas.id/sekolah/346235507/anda-guru-wajib-baca-artikel

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.