Oleh: Kang Rido
berantas86news – Kurban Sapi, Kursinya Kurang Satu.
Menjelang Idul Adha, suasana di Kampung Cidulang terasa lebih hidup. Gema takbir sudah mulai dilatih oleh anak-anak di masjid. Bagi Mang Tatang, seorang petani sederhana, perasaan bahagia bercampur dengan cemas. Setelah bertahun-tahun menabung, akhirnya tahun ini ia mampu membeli seekor sapi sehat untuk dijadikan hewan kurban bagi keluarganya. Sebuah pencapaian besar yang ia syukuri.
Kecemasannya muncul setelah ia ikut pangaosan (pengajian) yang diisi oleh Kang Opik. “Ingat, Bapak-bapak!” kata Kang Opik dengan tegas. “Aturan kurban itu jelas! Satu domba untuk satu orang. Satu sapi untuk tujuh orang! Tidak bisa lebih, tidak bisa kurang! Ini aturan syariat, tidak bisa ditawar-tawar!”
Kalimat itu seperti petir di siang bolong bagi Mang Tatang. Ia langsung menghitung anggota keluarganya: dirinya, istrinya, dan enam orang anaknya. Total delapan orang. Sapi hanya untuk tujuh. Hatinya langsung gelisah.
Malamnya, Mang Tatang tidak bisa tidur. Ia duduk termenung di teras rumahnya yang sederhana, ditemani sang istri.
“Kumaha atuh, Nyai?” keluhnya pelan. “Sapi téh ngan ukur keur tujuh urang. Ari urang pan dalapanan. Saha atuh nu moal kabagéan? Karunya teuing si bungsu, moal boga kendaraan engké di akhérat.” (Gimana dong, Nyai? Sapi kan hanya untuk tujuh orang. Kita kan berdelapan. Siapa dong yang tidak kebagian? Kasihan sekali si bungsu, tidak akan punya kendaraan nanti di akhirat).
Istrinya hanya bisa menghela napas, tak tahu harus menjawab apa. Bayangan tujuh anggota keluarganya “berangkat” sementara satu anaknya tertinggal benar-benar membuatnya sedih. Saking bingungnya, Mang Tatang sempat berpikir untuk membatalkan niatnya berkurban tahun ini.
Keesokan harinya, Tulus Ridho kebetulan lewat di depan rumah Mang Tatang. Ia melihat Mang Tatang duduk di golodog (tangga kayu di depan rumah) dengan wajah muram.
“Mang Tatang, nuju naon? Naha siga nu bingung kitu?” sapa Tulus. (Mang Tatang, lagi apa? Kenapa seperti yang bingung begitu?)
Mang Tatang yang hatinya sedang kalut, langsung menceritakan semua masalahnya. Ia bercerita tentang sapi, tentang aturan tujuh orang, dan tentang kekhawatirannya soal “kursi yang kurang satu” untuk ke surga.
Tulus mendengarkan dengan saksama. Ia tidak memotong, juga tidak langsung mengeluarkan dalil. Setelah Mang Tatang selesai bercerita, Tulus hanya tersenyum tipis.
“Mang Tatang, ari si bungsu téh umurna sabaraha taun?” tanya Tulus. (Mang Tatang, kalau si bungsu umurnya berapa tahun?)
“Tilu taun, Jang,” jawab Mang Tatang.
“Tah,” kata Tulus sambil menjentikkan jarinya. “Budak umur tilu taun mah pan teu acan tiasa naék sapi nu jangkung. Bisi geubis engké.” (Nah, anak umur tiga tahun kan belum bisa naik sapi yang tinggi. Nanti bisa jatuh).
Mang Tatang menatap Tulus dengan bingung. “Terus kumaha atuh, Jang?”
“Kieu, Mang,” jelas Tulus, matanya berbinar. “Kurbanna mah tetep wé sapi hiji kanggo tujuh urang. Tah, kanggo si bungsu mah, urang pangmeulikeun domba we hiji. Domba mah pan péndék, moal matak geubis. Malah engké di sawarga tiasa balap, sapi jeung domba. Si bungsu pasti resep!” (Gini, Mang. Kurbannya tetap saja satu sapi untuk tujuh orang. Nah, untuk si bungsu, kita belikan domba saja satu. Domba kan pendek, tidak akan membuat jatuh. Malah nanti di surga bisa balapan, sapi dan domba. Si bungsu pasti suka!)
Wajah muram Mang Tatang seketika berubah. Ia terdiam sejenak, mencerna logika sederhana itu. Lalu, sebuah tawa renyah keluar dari mulutnya.
“Hahahaha! Bener ogé si Ujang téh! Naha teu kapikiran ku Mamang, nya?” (Hahaha, benar juga si Ujang ini! Kenapa tidak terpikir oleh Paman, ya?)
Kecemasan yang semalaman membebani hatinya langsung sirna. Digantikan oleh semangat baru yang membahagiakan. Ia bukan hanya akan berkurban sapi, tapi ia juga akan membelikan sebuah “kendaraan khusus” yang lebih aman dan menyenangkan untuk anak bungsunya.
Hakikat dari ibadah kurban adalah pengorbanan dan upaya untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Ia adalah simbol cinta dan ketakwaan. Namun, seringkali semangat luhur ini terhalang oleh pemahaman kita yang terlalu kaku terhadap aturan formalnya.
Cerita Mang Tatang adalah contoh bagaimana fikih, jika disampaikan tanpa kearifan dan welas asih, bisa menjadi sumber kecemasan, bukan ketenangan.
Jawaban Kang Opik yang berprinsip “tidak bisa lebih, tidak bisa kurang” memang benar secara tekstual, namun pendekatan itu menutup pintu solusi dan hampir membatalkan sebuah niat ibadah yang mulia. Ia membuat agama terasa seperti labirin peraturan yang menyusahkan.
Di sinilah peran kebijaksanaan (hikmah). Tulus tidak menentang aturan fikih. Solusinya tetap sejalan dengan syariat: satu sapi untuk tujuh orang, dan satu domba untuk satu orang. Yang ia lakukan adalah membingkai ulang masalahnya. Ia tidak melihatnya sebagai “masalah kekurangan kursi”, tapi sebagai “masalah teknis keselamatan anak kecil”.
Pendekatan Tulus ini mencerminkan semangat sejati dari Maqasid al-Syariah (tujuan-tujuan utama dari diturunkannya syariat). Tujuan utama syariat bukanlah untuk menyulitkan manusia, melainkan untuk mendatangkan kemaslahatan, keadilan, dan rahmat. Dakwah yang baik adalah dakwah yang membuka pintu, memberikan solusi, dan membuat orang semakin cinta untuk beribadah, bukan malah takut dan menjauh.
Metafora tentang hewan kurban sebagai “kendaraan di akhirat” memang sangat populer dan menjadi penyemangat yang kuat. Namun, jangan sampai kita terjebak dalam penafsiran harfiahnya hingga cemas memikirkan siapa yang akan “ditinggal”. Karena sesungguhnya, kendaraan sejati yang akan mengantarkan kita kepada keridhaan-Nya bukanlah wujud fisik hewan tersebut, melainkan nilai ketakwaan dari orang yang berkurban. Sebagaimana firman-Nya, yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darahnya, melainkan takwa dari kita.
Agama hadir untuk menenangkan hati dan mencerahkan akal. Ketika kita dihadapkan pada sebuah tembok peraturan, cobalah untuk mundur sejenak dan lihat gambaran besarnya. Apa sebenarnya tujuan dari ibadah ini? Seperti yang diajarkan Tulus, selalu ada jalan keluar yang penuh kasih sayang jika kita mau menggunakan hati nurani dan sedikit kreativitas.***












