Pembina Upacara SMPN 3 Ciawi Ajak Siswa Gunakan Akal dan Hati Sebelum Bertindak

oleh -132 Dilihat
banner 468x60

berantas86news | BOGOR – Pesan reflektif disampaikan Ridwan, M.Pd., saat menjadi pembina upacara bendera di SMP Negeri 3 Ciawi, Kabupaten Bogor, Senin (31/8/2026). Dalam amanatnya, Ridwan mengajak para siswa untuk membiasakan diri berpikir sebelum bertindak serta menggunakan hati nurani dalam menentukan setiap pilihan.

Mengangkat tema “Di Mana Otakmu?”, Ridwan menyampaikan bahwa manusia dianugerahi akal untuk berpikir, hati untuk mempertimbangkan kebaikan, serta tubuh untuk membuktikan pilihan melalui tindakan.

banner 336x280

“Sudahkah kita menggunakan otak untuk berpikir sebelum bertindak?” ujar Ridwan di hadapan peserta upacara.

Menurutnya, persoalan sering muncul ketika seseorang bertindak berdasarkan emosi tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan dampaknya. Kondisi tersebut, kata dia, juga dapat terjadi dalam penggunaan media sosial.

Ridwan mencontohkan kebiasaan seseorang yang menulis komentar ketika sedang marah. Setelah komentar terkirim, penyesalan baru muncul. Karena itu, ia mengingatkan siswa agar tidak hanya mempertanyakan apakah suatu tindakan diperbolehkan, tetapi juga mempertimbangkan apakah tindakan tersebut membawa kebaikan.

“Jangan hanya bertanya, boleh atau tidak. Tanyakan juga, baik atau tidak,” pesannya.

Karakter Lebih Penting dari Sekadar Nilai

Dalam amanatnya, Ridwan juga menekankan pentingnya pembentukan karakter di lingkungan sekolah. Ia mengakui bahwa prestasi akademik tetap penting, tetapi kecerdasan harus berjalan bersama kejujuran, empati, dan sikap menghargai orang lain.

Ia mengingatkan bahwa kemampuan akademik tidak akan cukup apabila tidak disertai karakter yang baik.

“Apa gunanya pintar kalau suka merendahkan orang? Apa gunanya nilai tinggi kalau tidak jujur? Apa gunanya banyak ilmu kalau tidak punya empati?” katanya.

Ridwan menegaskan, kecerdasan membuat seseorang mampu mengetahui banyak hal. Namun, karakter yang baik menentukan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan dalam kehidupan.

Ajak Siswa Melakukan Muhasabah

Ridwan kemudian mengajak para siswa melakukan introspeksi atau muhasabah terhadap perilaku mereka setiap hari.

Ia menyarankan agar siswa meluangkan waktu sebelum tidur untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukan sepanjang hari. Evaluasi tersebut dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana, seperti apakah sudah berbicara baik kepada orang tua, menghormati guru, membantu teman, berkata jujur, serta menggunakan telepon seluler untuk hal yang bermanfaat.

Siswa juga diajak berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

“Menjadi manusia baik bukan berarti tidak pernah salah. Menjadi manusia baik adalah berani menyadari kesalahan dan memperbaikinya,” tutur Ridwan.

Menurutnya, kebiasaan melakukan evaluasi diri dapat membantu seseorang mengenali kekurangan sekaligus mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.

Pesan Menjelang Purnatugas

Suasana amanat menjadi lebih emosional ketika Ridwan menyampaikan bahwa dirinya akan segera memasuki masa purnatugas.

Ia mengatakan, upacara tersebut menjadi salah satu momen istimewa karena kemungkinan dirinya tidak lagi sesering sekarang berdiri di hadapan para siswa.

“Mungkin setelah ini saya tidak akan sesering sekarang berdiri di depan kalian. Mungkin suara saya yang biasanya kalian dengar di sekolah akan semakin jarang terdengar,” ujarnya.

Meski demikian, Ridwan menegaskan bahwa berakhirnya masa tugas seorang guru tidak berarti berakhir pula perhatian dan doa kepada para siswa.

“Guru mungkin meninggalkan sekolah, tetapi doa seorang guru untuk muridnya tidak pernah mengenal purnatugas,” katanya.

Ridwan juga meminta maaf kepada para siswa apabila selama menjalankan tugas sebagai guru pernah memberikan teguran, tugas, atau aturan yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

Ia menjelaskan bahwa teguran seorang guru tidak selalu lahir dari kemarahan, tetapi dapat muncul karena kepedulian dan keinginan agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

“Di Mana Otakmu?” Menjadi Pesan yang Dititipkan

Menjelang akhir amanat, Ridwan kembali mengajak siswa mengingat tiga hal penting dalam menjalani kehidupan.

Ketika menghadapi ajakan teman untuk melakukan sesuatu yang salah, ketika emosi memuncak, ketika ingin menulis komentar kasar di media sosial, atau ketika menghadapi keinginan untuk menyerah, siswa diminta berhenti sejenak dan berpikir.

“Di mana otakku? Apa kata hatiku? Dan kalau Allah melihat saya sekarang, apakah saya rela dengan apa yang sedang saya lakukan?” katanya.

Ridwan berharap pertanyaan tersebut dapat menjadi pengingat bagi siswa agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Ia juga berpesan agar para siswa tidak hanya mengejar keberhasilan akademik, tetapi tetap menjaga akhlak, menghormati orang tua dan guru, serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

“Jadilah murid yang bukan hanya cerdas otaknya, tetapi juga mulia hatinya,” pesan Ridwan.

Menutup amanatnya, Ridwan mengatakan bahwa para siswa suatu saat akan meninggalkan SMP Negeri 3 Ciawi untuk melanjutkan pendidikan maupun menjalani kehidupan masing-masing. Ia berharap materi pelajaran yang diberikan di sekolah mungkin dapat terlupakan, tetapi nilai-nilai kebaikan tetap melekat dalam kehidupan mereka.

“SMP Negeri 3 Ciawi boleh menjadi tempat kita belajar. Tetapi semoga kebaikan yang kita pelajari di sini menjadi bekal untuk sepanjang kehidupan,” pungkasnya. (MU)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.