Pendidikan dan Pengasuhan: Fondasi Masa Depan Anak Bangsa

oleh -38 Dilihat
banner 468x60

Oleh : Prof. DR. Isman Kadar, M.M.

berantas86news | Pendidikan di Indonesia, khususnya untuk anak usia dini hingga enam tahun, masih menghadapi tantangan besar. Salah satu masalah utama adalah kurangnya arah yang jelas dalam proses pendidikan dan pengasuhan. Pada tahap ini, penting untuk menekankan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada kompetisi, tetapi lebih pada kolaborasi. Anak-anak perlu dilatih untuk memiliki rasa empati, memahami cara membuang sampah dengan benar, mengantri, dan mematuhi rambu lalu lintas. Agar bukan hanya anak anak sudah terbiasa mengikuti dan manjakankan nilai nilai moral bersama  dan norma yang berlaku secara nasional, lebih dari itu memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesama, sehingga meningkatkan rasa kebersamaan ingin membantu orang lain, terhindar dari tindakan yang merugikan orang lain.

banner 336x280

Dalam sistem pendidikan yang ideal dimasa anak anak tidak seharusnya ada ujian formal, melainkan latihan simulasi yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Seperti yang dilakukan di negara negara seperti Irlandia, Jepang, Swedia dll, dengan melakukan pola pendiikan dan pengasuhan seperti itu terbukti berpengaruh pada  menurun nya tingkat kriminalitas dan  kejahatan di negara itu. Bukan hanya itu bahkan mendorong negara negara tersebut masuk dalam  Negara Bahagia berdasarkan penilaian dari WHO.

Kondisi kecerdasan anak bangsa saat ini mengalami penurunan yang sangat drastis. Hal ini disebabkan oleh paparan informasi yang tidak rasional dan tidak relevan, yang terus-menerus diberikan kepada mereka.

Saya merasa sedih melihat bagaimana nalar dan rasionalitas masyarakat pada umumnya kini semakin menurun. Banyak individu yang kesulitan untuk berpikir secara rasional. Kita terjebak dalam kebodohan kolektif, merasa bangga dengan ketidaktahuan bersama, yang tercermin jelas dalam sikap mereka di media sosial.

Contoh nyata dari fenomena ini adalah polemik mengenai nasab, polemik perbedaan keyakinan dalam agama, dan isu ijazah palsu. Jika kita berpikir dengan rasional, masalah-masalah ini seharusnya dapat diselesaikan dengan sederhana dan tidak perlu menjadi polemik yang berkepanjangan.

Sebagian besar manusia cenderung menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan mereka. Informasi yang tidak sejalan dengan keyakinan tersebut biasanya ditolak, sedangkan informasi yang sesuai, meskipun itu adalah hoaks, diterima tanpa kritis. Sebaliknya, fakta-fakta yang tidak sesuai dengan keyakinan sering kali diabaikan, meskipun itu adalah kebenaran.

Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: Apa yang terjadi ketika fakta tidak sejalan dengan keyakinan kita? Apakah kita bersedia merevisi keyakinan tersebut, ataukah kita akan tetap mempertahankannya meskipun terbukti tidak sesuai dengan fakta?

Mari kita bersama-sama mendorong pendidikan yang lebih baik, yang tidak hanya fokus pada pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan karakter dan kemampuan berpikir kritis anak-anak kita. Hanya dengan cara ini kita dapat membangun masa depan yang lebih baik bagi bangsa. ***

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.