Warga Tergusur dari Lahan Parkir Akibat Kebijakan Indomaret: Satpam Gantikan Juru Parkir Tradisional

oleh -18 Dilihat
banner 468x60

berantas86news | Ciawi Bogor – Sejumlah warga yang selama ini menggantungkan hidup dari jasa perparkiran di sekitar gerai Indomaret Bendungan Ciawi, kini harus kehilangan sumber penghasilan setelah pihak manajemen toko waralaba tersebut menerapkan kebijakan baru, dengan menempatkan satpam toko yang difungsikan ganda sebagai petugas parkir, menggantikan para juru parkir lokal yang selama ini menjaga area tersebut.

Kebijakan ini mulai diterapkan sejak beberapa minggu terakhir di gerai Indomaret Bendungan Ciawi. Para warga yang sebelumnya diizinkan mengelola parkir secara informal mengaku kecewa dan merasa tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan oleh pihak manajemen.

banner 336x280

“Kami bukan mau merecoki atau merugikan. Dari parkir itu kami bisa makan, menyekolahkan anak, dan bayar kontrakan,” ujar Umang/Buluk(45), salah satu juru parkir yang sehari-hari biasa menjaga halaman Indomaret di kawasan Ciawi, Kabupaten Bogor.

Menurut penuturan warga, tidak ada pemberitahuan resmi atau dialog antara pihak manajemen dan para pengelola parkir sebelum perubahan diterapkan. Bahkan, beberapa dari mereka baru mengetahui kebijakan tersebut setelah satpam ditugaskan langsung untuk mengatur kendaraan pelanggan.

Manajemen Indomaret Belum Beri Penjelasan Resmi

Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen Indomaret setempat belum memberikan keterangan resmi terkait kebijakan pengalihan fungsi satpam menjadi petugas parkir. Wartawan Berantas86News yang berusaha menghubungi pihak terkait melalui email dan kontak layanan pelanggan belum mendapat tanggapan.

Namun menurut beberapa pengamat kebijakan publik, fenomena seperti ini menunjukkan lemahnya perlindungan terhadap sektor ekonomi informal.

“Kebijakan semacam ini tidak boleh diputuskan sepihak. Harus ada dialog sosial, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak yang menggantungkan nafkah dari pekerjaan sehari-hari, walau tidak formal, Warga setempat parkir untuk mempertahankan hidup, untuk mencari sesuap nasi,” kata Muhsin, S.IP., Ketua Umum Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS).

Ia mendesak pemerintah daerah dan DPRD setempat untuk segera menengahi persoalan ini agar tidak meluas dan menciptakan ketegangan sosial di lapangan.

Harapan Warga: Ada Solusi yang Berkeadilan

Sebagian warga berharap ada jalan tengah yang bisa ditempuh. Misalnya dengan sistem kemitraan, di mana juru parkir lokal bisa bekerja sama dengan pihak manajemen tanpa harus kehilangan penghasilan sepenuhnya.

“Kalau memang Indomaret mau pakai sistem sendiri, kami siap ikut aturan, asal jangan diberhentikan begitu saja. Kami juga bisa dilatih, bisa disiplin. Jangan hanya satpam yang dikasih kepercayaan,” tutur N (38), warga lainnya.

Kasus ini menambah daftar panjang ketegangan antara sektor formal dan informal di tengah perubahan pola pengelolaan ruang ekonomi. Ketika perusahaan ritel besar memperluas jangkauan dan kontrolnya, masyarakat kecil yang selama ini berada di pinggiran sistem sering kali menjadi korban tak bersuara. (mang uka)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.