Pengungsi Bencana di Tugu Selatan Mulai Terserang Penyakit, Stok Bantuan Menipis

oleh -84 Dilihat
banner 468x60

berantas86news| CISARUA – Kondisi pengungsi korban bencana hidrometeorologi di kawasan Puncak, tepatnya di Kampung Bina Taruna RT 01/05, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, kian memprihatinkan. Sejumlah balita dilaporkan mulai terserang penyakit, sementara persediaan logistik dan kebutuhan dasar semakin menipis.

Situasi tersebut terungkap saat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Bogor menyalurkan bantuan kemanusiaan ke lokasi terdampak, Selasa (17/2/2026).

banner 336x280

Sebelumnya, wilayah tersebut diterjang longsor dan banjir setelah Tembok Penahan Tebing (TPT) jebol akibat hujan deras dengan intensitas tinggi dan durasi panjang pada Sabtu (14/2/2026). Bencana tersebut mengakibatkan sembilan rumah terdampak, dihuni 12 kepala keluarga (KK) dengan total 42 jiwa.

Dari jumlah tersebut, 12 jiwa terpaksa mengungsi di sebuah rumah kontrakan yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Bogor.

Ketua DPD PSI Kabupaten Bogor, Rena Da Frina, mengatakan hasil asesmen di lapangan menunjukkan adanya gangguan kesehatan pada pengungsi, khususnya balita.

“Dari hasil asesmen teman-teman DPD PSI Kabupaten Bogor di lokasi bencana, para korban yang tinggal di pengungsian, terutama balita, mulai terserang penyakit,” ujar Rena saat meninjau lokasi bersama Wakil Ketua Umum PSI, Ronald Aristone Sinaga atau Bro Ron.

Menurutnya, kondisi cuaca yang masih lembap serta lingkungan pengungsian yang terbatas menjadi faktor pemicu menurunnya kondisi kesehatan anak-anak.

“Pengungsi sangat membutuhkan obat-obatan. Kebutuhan medis ini tampaknya belum terpenuhi secara optimal. Selain itu, pasokan makanan mulai menipis. Mereka juga membutuhkan peralatan memasak tambahan karena yang tersedia digunakan bersama,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, Muhammad Adam Hamdani, menjelaskan bahwa longsor dan banjir dipicu hujan deras berkepanjangan yang mengguyur kawasan tersebut.

“Curah hujan tinggi dalam waktu lama menyebabkan aliran drainase dari Rest Area Gunung Mas Puncak meluap. Tekanan air yang besar membuat TPT jebol dan memicu longsor. Material tanah serta air kemudian masuk ke rumah-rumah warga,” ujarnya.

Ia memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa tersebut. Namun, dampak kerusakan cukup signifikan. Tiga rumah mengalami kerusakan berat, masing-masing milik Agung (2 KK/8 jiwa), Asep (2 KK/6 jiwa), dan Adit (1 KK/4 jiwa).

Enam rumah lainnya terdampak tanpa mengalami kerusakan struktural serius, sementara satu unit rumah milik Ridwan yang dihuni satu KK berisi empat jiwa berada dalam kondisi terancam.

Pemdes Usulkan Pembangunan Sodetan

Kepala Desa Tugu Selatan, Eko Windiana, menilai jebolnya TPT tidak hanya disebabkan tingginya curah hujan, tetapi juga persoalan sistem drainase di kawasan Rest Area Gunung Mas Puncak yang dinilai tidak memadai.

“Drainase di Rest Area Gunung Mas hanya memiliki satu saluran yang langsung mengarah ke Kampung Bina Taruna. Saat debit air meningkat, aliran tidak tertampung dan meluap hingga menyebabkan TPT jebol,” ungkapnya.

Ia mengaku Pemerintah Desa Tugu Selatan telah berulang kali mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pekerjaan Umum agar dibangun sodetan atau saluran tambahan untuk memecah debit air.

“Usulan pembuatan sodetan sudah disampaikan sejak lama, namun hingga kini belum terealisasi,” tegasnya.

Hingga saat ini, warga terdampak masih berharap adanya penanganan cepat, baik dalam pemenuhan kebutuhan dasar di pengungsian maupun langkah konkret perbaikan infrastruktur guna mencegah bencana serupa terulang kembali. (***)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.