Oleh: Prof. DR. Isman Kadar, M.M.
berantas86news | Sejarah ibadah haji dalam Islam memiliki akar yang sangat dalam dan terkait erat dengan sejarah Nabi Ibrahim (Abraham), Nabi Ismail (Ismail), serta perkembangan Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Masa Nabi Ibrahim dan Ismail (Ritual Awal Haji)
Pembangunan Ka’bah: Ibadah haji bermula ketika Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, diperintahkan Allah untuk membangun Ka’bah di Mekkah (QS. Al-Baqarah: 127). Ka’bah kemudian menjadi pusat peribadatan monoteisme (tauhid).
Perintah Haji: Setelah pembangunan Ka’bah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia berhaji (QS. Al-Hajj: 27-28). Ritual seperti thawaf, sa’i (lari-lari kecil antara Safa dan Marwah), dan wukuf di Arafah diyakini berasal dari tradisi yang diajarkan Ibrahim dan Ismail.
2. Masa Pra-Islam (Jahiliyah)
Penyimpangan Ritual: Sebelum Islam datang, masyarakat Arab Jahiliyah tetap melaksanakan haji, tetapi mereka mencampurkannya dengan syirik (menyekutukan Allah). Mereka menyembah berhala di sekitar Ka’bah dan melakukan ritual yang tidak sesuai dengan ajaran Ibrahim.
Tradisi yang Bertahan: Beberapa ritual seperti thawaf dan sa’i tetap dilakukan, meski sering disertai praktik tidak bermoral seperti berhaji tanpa pakaian (untuk laki-laki) atau bersiul dan bertepuk tangan.
3. Masa Nabi Muhammad SAW (Pemurnian Haji)
Fase Mekkah: Nabi Muhammad SAW belum melaksanakan haji karena kaum Muslim saat itu ditekan oleh kaum Quraisy. Namun, beliau mengajarkan kembali tauhid sebagai inti haji.
Hijrah ke Madinah: Setelah hijrah, Nabi dan para sahabat tidak bisa berhaji karena Mekkah masih dikuasai musyrikin Quraisy.
Perjanjian Hudaibiyah (6 H): Kaum Muslim diizinkan berhaji tahun berikutnya (7 H) dengan syarat-syarat tertentu, yang dikenal sebagai Umratul Qadha
Fathu Makkah (Pembebasan Mekkah, 8 H): Nabi membersihkan Ka’bah dari berhala dan mengembalikan haji kepada ajaran tauhid.
4. Haji Wada’ (Haji Perpisahan, 10 H)
Haji Pertama dan Terakhir Nabi: Pada tahun 10 H, Nabi Muhammad SAW memimpin haji bersama sekitar 100.000 umat Islam. Ini menjadi contoh sempurna (sunnah) tata cara haji.
Khutbah di Arafah: Dalam khutbahnya, Nabi menegaskan prinsip-prinsip Islam, persamaan manusia, larangan riba, dan pentingnya persatuan umat.
5. Perkembangan Haji Pasca Nabi Muhammad SAW
Era Khulafaur Rasyidin: Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali menjaga kemurnian haji serta memperluas fasilitas untuk jamaah.
Era Kekhalifahan Umayyah & Abbasiyah: Pemerintah membangun infrastruktur seperti jalur perjalanan, sumur, dan pengamanan untuk jamaah haji.
Era Ottoman: Sultan-sultan Ottoman mengorganisir sistem keamanan dan logistik haji, termasuk pengaturan air Zamzam.
6. Era Modern (Abad ke-20–Sekarang)
Pemerintah Saudi: Sejak berdirinya Kerajaan Arab Saudi (1932), haji dikelola lebih terstruktur dengan perluasan Masjidil Haram, sistem kuota, dan teknologi modern (seperti kereta cepat Arafah-Muzdalifah).
Regulasi: Organisasi seperti Kementerian Haji Saudi mengatur visa, akomodasi, dan kesehatan jamaah.
Makna Spiritual & Sosial Haji
Ritual Tauhid: Haji mengingatkan kembali perjuangan Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam menegakkan ketundukan kepada Allah.
Persatuan Umat: Jamaah dari seluruh dunia berkumpul tanpa perbedaan ras, status, atau bangsa.
Haji terus menjadi salah satu rukun Islam yang paling penting, menghubungkan Muslim modern dengan warisan spiritual para nabi. ***













