Silaturahmi atau Silaturahim? Bukan Sekadar Kata, Tapi Jalan Menuju Surga

oleh -9 Dilihat
banner 468x60

Oleh Sri Rahayu, M.Pd.
(Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 3 Ciawi)

berantas86news | Ciawi, 8/4/2025 – Pernahkah engkau merasa hidupmu tak tenang, rezeki seret, padahal semua usaha sudah maksimal? Mungkin bukan karena kurangnya kerja keras, tapi karena ada tali yang putus, ada jembatan yang tak lagi dilalui. Namanya silaturahmi… atau silaturahim? Ya, dua kata yang sering dianggap sama, tapi sejatinya mengandung makna dan akar yang berbeda.

banner 336x280

Mari kita kulik dulu dengan hati terbuka. Dalam bahasa Arab, kata yang tepat adalah shilat al-rahim (صلة الرحم), yang artinya menyambung hubungan kekerabatan—rahim merujuk pada rahim ibu, tempat awal kita semua berasal. Maka secara harfiah dan maknawi, silaturahim adalah menyambung kembali hubungan darah, keluarga, dan sanak saudara. Namun dalam bahasa Indonesia, berkembanglah bentuk silaturahmi yang maknanya lebih luas: menyambung relasi, tidak hanya terbatas pada keluarga, tapi juga pada sahabat, tetangga, bahkan siapa saja dalam lingkaran kehidupan kita.

Sebagian pakar bahasa menyatakan bahwa “silaturahmi” adalah bentuk tidak baku, karena “rahmi” tidak berasal dari kata Arab yang bermakna benar. Namun, dalam praktiknya, “silaturahmi” menjadi kata yang populer dan diterima dalam konteks sosial yang lebih luas. In short, silaturahim adalah akar, silaturahmi adalah cabangnya.

Tapi… apakah kita sibuk memperdebatkan kata, sementara maknanya belum kita amalkan? Bukankah lebih penting menyambung hati daripada menyambung ejaan?

Hidup ini seperti pohon besar: akarnya adalah keluarga, batangnya sahabat, ranting dan daunnya semua yang pernah bersinggungan dengan kita. Dan silaturahmi—atau silaturahim—adalah air yang mengaliri pohon itu agar tidak layu dan mati. Bila kita biarkan ia kering, jangan salahkan takdir kalau hidup terasa gersang.

Zaman ini, WhatsApp bisa menjangkau ribuan orang, tapi berapa yang benar-benar kita sapa dengan hati? Kita like status orang, tapi tidak pernah lagi mengunjungi rumahnya. Kita sibuk di dunia maya, tapi miskin sentuhan nyata.

Mari kita koreksi diri. Jangan tunggu momen besar untuk menyambung hubungan. Jadilah yang pertama mengulurkan tangan, meski yang lain pernah membuat luka. Karena memulai silaturahim itu bukan soal siapa yang bersalah, tapi siapa yang lebih sadar bahwa hidup terlalu singkat untuk membawa dendam.

Hari ini, jangan hanya paham bedanya silaturahmi dan silaturahim. Tapi amalkan keduanya. Kirim pesan. Datang berkunjung. Peluk keluarga. Maafkan sahabat. Karena bisa jadi satu sapaan sederhana itu yang membuka pintu rezekimu yang tersumbat, dan menjadi sebab Allah ridha padamu.

Ingat, bukan siapa yang paling benar yang dijamin masuk surga. Tapi siapa yang paling banyak menyambung rahmat-Nya. Silahkan pilih jalannya. Tapi jangan tunda jalannya. redaksi

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.