Idul Fitri dan Spirit Perubahan: Momentum Kembali ke Fitrah, Bangkitkan Perubahan Hakiki

oleh -8 Dilihat
banner 468x60

oleh: H. Ridwan, M.Pd.

berantas86news | Ciawi, 6/4/2025 – Ramadhan telah berlalu. Ia hadir sebagai pelabuhan sunyi bagi hati-hati yang penat, menenangkan jiwa yang lelah oleh riuh dunia. Dalam sebulan, kita ditempa—bukan hanya untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi untuk menundukkan ego, melatih kejujuran, dan menanam ketulusan. Maka, ketika gema takbir menggetarkan langit pada malam Idul Fitri, itu sejatinya bukan hanya pertanda hari kemenangan, tetapi juga panggilan untuk bangkit: kembali ke fitrah, kembali ke jalan yang lurus.

banner 336x280

Namun, seberapa banyak di antara kita yang benar-benar berubah? Seberapa lama semangat Ramadhan itu bertahan? Tak jarang, begitu selesai bersalaman, kita pun bersalaman pula dengan kebiasaan lama. Doa-doa yang tadinya lirih di sepertiga malam berubah menjadi rutinitas tanpa ruh. Ramadhan menjadi kenangan, bukan pijakan.

Padahal, takwa yang kita dambakan tak seharusnya berhenti pada sajadah dan air mata. Ia mesti hidup dalam perilaku, dalam profesi, dalam keputusan-keputusan kecil maupun besar yang kita ambil setiap hari.

Bayangkan seorang anggota TNI yang benar-benar memahami makna takwa, ia tidak akan menjadikan senjata sebagai simbol kekuasaan, tetapi penjaga amanah rakyat. Seorang anggota Polri yang meresapi semangat Ramadhan akan menjauhkan diri dari praktik kecurangan, memilih untuk menjadi pelindung yang adil, bukan penegak hukum yang pilih kasih. Seorang ASN, dari pusat hingga daerah, jika hatinya telah disentuh Ramadhan, tak akan tergoda mempermainkan anggaran atau memperjualbelikan jabatan.

Begitu juga seorang guru, yang menjadikan takwa sebagai dasar dalam mengajar, akan menyampaikan ilmu bukan sekadar karena gaji, tapi karena cinta kepada generasi. Ibu rumah tangga yang merawat keluarganya dengan nilai-nilai Ramadhan, akan melahirkan anak-anak yang bukan hanya cerdas, tapi juga berakhlak. Dan pegawai swasta, yang bekerja dengan integritas setelah dibasuh Ramadhan, tak akan tergoda oleh praktik curang, apalagi menjual nurani demi target bulanan.

Tak kalah penting, jurnalis dan wartawan, jika mereka membawa semangat ketakwaan dalam pena dan kamera mereka, maka berita yang mereka sampaikan akan jujur dan adil—bukan sekadar sensasi, tapi pencerdasan. Mereka akan menjadi suara kebenaran, bukan alat propaganda.

Dari pucuk hingga akar kekuasaan pun demikian. Gubernur, bupati, wali kota, camat hingga kepala desa, jika benar-benar menempatkan takwa di dada, akan mengayomi rakyat dengan kasih dan kejujuran. Mereka tak akan silau oleh kekuasaan, tapi justru takut mengkhianati kepercayaan yang diemban. Jabatan tak lagi dilihat sebagai takhta, tapi sebagai ladang amal.

Tetapi semua ini tak akan kokoh jika takwa hanya menjadi proyek individu. Seperti benih yang ditanam di tanah kering, ia tak akan tumbuh tanpa sistem yang mendukung. Maka, takwa harus bertransformasi menjadi kesadaran kolektif dan sistemik. Dunia yang rusak ini membutuhkan lebih dari sekadar orang-orang baik—ia butuh sistem yang baik. Sebuah sistem yang dibangun di atas landasan wahyu, bukan sekadar nafsu. Di sinilah urgensi akan hadirnya kembali Khilafah ‘alaa Minhaaj an-Nubuwwah—sebuah kepemimpinan global yang bukan hanya menegakkan hukum Allah, tetapi juga membimbing umat menuju rahmat-Nya.

Maka Idul Fitri janganlah kita maknai sebagai akhir dari ibadah, tetapi awal dari perjuangan. Setiap kita—apapun profesinya, di manapun posisinya—punya peran. Jadikan takwa bukan hanya pakaian hari raya, tetapi pakaian seumur hidup. Mari kita mulai dari diri sendiri, dari rumah kita, dari profesi kita. Semoga perubahan ini tak hanya berakhir di hari lebaran, tapi berlanjut hingga kita benar-benar menjadi umat yang diridhai.

Karena sejatinya, Idul Fitri bukan hanya tentang kembali suci, tapi tentang kembali memiliki misi.

redaksi

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.